WARTASURYA.COM – Persoalan dugaan pencemaran lingkungan yang dikeluhkan warga Dusun Purwodadi, Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, kembali memanas.
Sedikitnya 25 rumah warga diduga terdampak. Kondisi tersebut mendorong masyarakat menyiapkan aksi demonstrasi ke depan PT Etika Dairies Indonesia di Dusun Gesing, Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, pada 1 September 2026.
Rencana aksi itu menjadi bentuk kekecewaan warga yang mengaku belum mendapatkan penyelesaian jelas atas keluhan mengenai kondisi air sumur.
Warga menyebut air sumur mengalami perubahan warna dan bau. Air tersebut juga dikeluhkan menimbulkan rasa gatal ketika mengenai kulit.
Ketua Pemuda Dusun Purwodadi, Budi mengatakan, keputusan menggelar aksi diambil setelah tuntutan warga sebelumnya dinilai belum memperoleh kejelasan.
“Karena kami menilai, tuntutan warga sebelumnya terabaikan. Maka dengan itu, kami sepakat melakukan aksi ke perusahaan susu atau PT Etika yang dinilai meresahkan lingkungan,” ujar Budi, Kamis (27/8/2026).
Menurut Budi, persoalan tersebut membuat sebagian warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Mereka bahkan harus membeli air dari luar.
“Pihak perusahaan hanya janji dan janji. Tapi tidak ada kejelasan. Dan parahnya lagi, kesehatan warga juga terancam. Kami meminta keadilan,” imbuhnya.
Budi menambahkan, keluhan serupa diduga tidak hanya terjadi di Dusun Purwodadi. Sejumlah wilayah lain di sekitar lokasi juga diklaim mengalami persoalan yang sama.
“Kami bersama warga memperjuangkan terkait masalah limbah susu perusahaan. Saat ini, sekitar 25 rumah di Dusun Purwodadi terdampak, dan juga dusun lain juga sama,” jelas Budi.
Sorotan warga juga mengarah kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan. Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, M. Nurkholis, belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi terkait persoalan tersebut.
Sikap tersebut menuai kritik dari Syaifuddin Syahril, Humas Karang Taruna Desa Wonokoyo.
Menurut Syahril, DLH perlu memberikan penjelasan kepada masyarakat karena persoalan yang dikeluhkan berkaitan dengan lingkungan dan kebutuhan dasar warga.
“Jangan diam saat dikonfirmasi media. Toh itu kepentingan warga masyarakat. Kalau memang tak paham apa tupoksi DLH, ya jangan menjabat. Lebih baik mundur,” kata Syahril.
Sebelumnya, warga telah menyampaikan sejumlah tuntutan kepada PT Etika Dairies Indonesia. Tuntutan itu antara lain penyediaan sumur bor bagi warga terdampak, pembangunan pipanisasi, pengurasan sumur, serta pembersihan sungai secara berkala setiap enam bulan.
Warga juga meminta perusahaan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Rencana aksi tersebut kini menjadi perhatian karena warga meminta adanya penyelesaian konkri terhadap persoalan yang mereka keluhkan.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak PT Etika Dairies Indonesia belum dapat dikonfirmasi terkait keluhan warga maupun rencana aksi demonstrasi pada 1 September 2026. (tim)
















Komentar ditutup.