WARTASURYA.COM, “Warga kecil antri panjang, pengangsu malah bebas isi Pertalite bolak-balik.” Keluhan itu disampaikan warga Pasuruan yang geram melihat dugaan praktik penjualan BBM subsidi secara tidak wajar di sejumlah SPBU wilayah Prigen dan Purwosari.
Di tengah aturan ketat distribusi BBM subsidi, para pengangsu justru diduga leluasa membeli Pertalite menggunakan kendaraan bertangki modifikasi tanpa tersentuh pengawasan tegas.
Situasi tersebut memicu pergunjingan masyarakat. Warga mempertanyakan pengawasan pihak SPBU, Pertamina, hingga aparat penegak hukum yang dinilai seolah membiarkan praktik pengangsu berlangsung terang-terangan. Sementara masyarakat umum harus mengantri lama demi mendapatkan BBM subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Berangkat dari laporan itu, sejumlah tim media melakukan penelusuran ke beberapa SPBU yang disebut warga. Salah satu yang menjadi sorotan ialah SPBU 54.67.121 di wilayah Candi Jawi, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Berdasarkan keterangan warga, para pengangsu menggunakan sepeda motor jenis Suzuki Thunder, Honda Mega Pro dan jenis motor besar lainnya yang telah dimodifikasi. Tangki kendaraan ditambah saluran selang khusus untuk mengalirkan BBM ke jerigen berkapasitas besar.
“Motor besar dipakai beli bolak-balik. Tangkinya sudah dimodifikasi dan ada selang khusus buat ngalirkan ke jerigen,” ujar salah satu warga kepada redaksi Wartasurya.com, Jumat (22/5/2026).
Tak hanya di Prigen, praktik serupa juga diinformasikan terjadi di sejumlah SPBU wilayah Purwosari. Sedikitnya tiga SPBU diduga kuat melayani pengangsu dengan modus yang sama, yakni membeli Pertalite berulang kali menggunakan motor bertangki modifikasi.

SPBU yang disebut warga di antaranya SPBU 54.671.04 di Jalan Raya Malang–Pasuruan, Karang, Sengonagung, Kecamatan Purwosari. Kemudian SPBU 54.671.33 di Jalan Raya Sengon Agung, Polorejo, Purwosari, hingga SPBU 54.671.39 yang berada di jalur yang sama dan dikabarkan pernah ditutup akibat persoalan yang sama.
“Semua pakai motor tangki modif. Yang paling ramai justru yang dulu pernah ditutup,” ungkap narasumber.
Aktivitas pengangsu itu membuat antrian kendaraan warga biasa semakin panjang. Pengendara yang hendak membeli BBM subsidi harus menunggu lebih lama karena antrian didominasi motor pengangsu yang keluar masuk SPBU secara bergiliran.
“Yang kasihan masyarakat biasa. Mereka antri lama, sementara motor pengangsu muter terus isi berkali-kali,” keluh warga Purwosari.
Saat tim Wartasurya.com melakukan penelusuran langsung ke lokasi, aktivitas pengisian BBM dengan kapasitas tak wajar memang terlihat di sejumlah titik SPBU yang disebut warga. Beberapa motor Thunder dan lainnya tampak keluar masuk area pengisian secara berulang dengan pola yang sama.
Ironisnya, hingga kini belum terlihat adanya tindakan tegas dari pihak terkait. Warga menilai ada kesan pembiaran, baik dari pengelola SPBU, pihak Pertamina, maupun aparat penegak hukum setempat.
“Kalau memang melanggar, kenapa dibiarkan terus? Pertamina diam, aparat juga seolah tutup mata,” ujarnya.
Sebelumnya, praktik pengisian BBM subsidi jenis Pertalite oleh para pengangsu juga ditemukan di SPBU 54.67.121 wilayah Jawi, Kecamatan Prigen. Aktivitas tersebut diduga berlangsung terbuka dan melibatkan oknum petugas SPBU.
Para pengangsu terlihat antri secara bergiliran menggunakan motor Thunder bertangki modifikasi untuk menampung BBM dalam jumlah besar. Bahkan dalam beberapa kesempatan, pengisian dilakukan sendiri tanpa pengawasan ketat dari petugas SPBU.
Sayangnya, hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi maupun klarifikasi dari pihak pengelola SPBU yang disebutkan, Pertamina, maupun aparat penegak hukum terkait dugaan praktik penjualan BBM subsidi kepada pengangsu tersebut. (Syh)










